Jumat, 22 Februari 2013

"Ilmuwan Akan Bangun Alat Pendeteksi Asteroid"

Sebuah ledakan besar dari meteor yang tak terduga
atas langit Rusia, menjadi sebuah
peringatan awal bagi para ilmuwan
yang menegaskan bahwa kejadian
alam sangat sulit diprediksi.

Dikutip dari Mashable, Kamis
(21/2/2013), berkaca dari beberapa
kejadian tersebut, ilmuwan berusaha
membuka mata mereka guna
meneliti batuan ruang angkasa yang
memiliki potensi berbahaya. Sebuah tim astronom dari University of
Hawaii mulai mengembangkan
sistem peringatan asteroid untuk
membantu memberikan
perlindungan dari dampak kejutan.

Diberi nama Asteroid Terrestrial
Impact-Last Alert System (ATLAS),
sistem yang direncanakan akan
selesai pada 2015 ini akan terdiri
dari delapan teleskop kecil, yang
masing-masing dilengkapi dengan kamera beresolusi hingga 100
megapiksel. Teleskop ATLAS akan
ditempatkan pada gunung di satu
atau dua lokasi dalam Kepulauan
Hawaii.

FAAI - Sistem ini diharapkan mampu
memberikan peringatan selama satu
minggu, saat mendeteksi asteroid
sebesar 50 meter yang mampu
menghapus seluruh kota. Kemudian
sistem itu juga diharapkan memberi peringatan selama tiga minggu saat
mendeteksi batu ruang angkasa
berukuran 150 meter yang mampu
memusnahkan seluruh negara.

"Waktu selama itu dirasa cukup
untuk mengevakuasi daerah
penduduk, mengambil langkah
untuk melindungi bangunan dan
infrastruktur lainnya, serta waspada
terhadap bahaya tsunami yang dihasilkan oleh hantaman di laut,"
ujar John Tonry, Astronom
Universitas Hawaii.

ATLAS akan memindai langit
sebanyak dua kali setiap malam, hal
itu dilakukan untuk mencari benda-
benda yang mungkin merupakan
asteroid berbahaya. Proyek ini akan
berusaha lebih mendekatkan peneliti pada kosmos dibanding Pan-STARRS
Array teleskop milik Universitas
Hawaii sebelumnya. Dimana Pan-
STARRS membutuhkan waktu selama
satu bulan untuk menyelesaikan
satu pindaian langit secara mendalam.
Photo: "Ilmuwan Akan Bangun Alat Pendeteksi Asteroid"

Sebuah ledakan besar dari meteor yang tak terduga
atas langit Rusia, menjadi sebuah
peringatan awal bagi para ilmuwan
yang menegaskan bahwa kejadian
alam sangat sulit diprediksi.

Dikutip dari Mashable, Kamis
(21/2/2013), berkaca dari beberapa
kejadian tersebut, ilmuwan berusaha
membuka mata mereka guna
meneliti batuan ruang angkasa yang
memiliki potensi berbahaya. Sebuah tim astronom dari University of
Hawaii mulai mengembangkan
sistem peringatan asteroid untuk
membantu memberikan
perlindungan dari dampak kejutan.

Diberi nama Asteroid Terrestrial
Impact-Last Alert System (ATLAS),
sistem yang direncanakan akan
selesai pada 2015 ini akan terdiri
dari delapan teleskop kecil, yang
masing-masing dilengkapi dengan kamera beresolusi hingga 100
megapiksel. Teleskop ATLAS akan
ditempatkan pada gunung di satu
atau dua lokasi dalam Kepulauan
Hawaii.

FAAI - Sistem ini diharapkan mampu
memberikan peringatan selama satu
minggu, saat mendeteksi asteroid
sebesar 50 meter yang mampu
menghapus seluruh kota. Kemudian
sistem itu juga diharapkan memberi peringatan selama tiga minggu saat
mendeteksi batu ruang angkasa
berukuran 150 meter yang mampu
memusnahkan seluruh negara.

"Waktu selama itu dirasa cukup
untuk mengevakuasi daerah
penduduk, mengambil langkah
untuk melindungi bangunan dan
infrastruktur lainnya, serta waspada
terhadap bahaya tsunami yang dihasilkan oleh hantaman di laut,"
ujar John Tonry, Astronom
Universitas Hawaii.

ATLAS akan memindai langit
sebanyak dua kali setiap malam, hal
itu dilakukan untuk mencari benda-
benda yang mungkin merupakan
asteroid berbahaya. Proyek ini akan
berusaha lebih mendekatkan peneliti pada kosmos dibanding Pan-STARRS
Array teleskop milik Universitas
Hawaii sebelumnya. Dimana Pan-
STARRS membutuhkan waktu selama
satu bulan untuk menyelesaikan
satu pindaian langit secara mendalam. [amr,okezone]

admin "N.P"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar