Komet yang (bakal) bertubrukan dengan Mars?"
Komet Siding-Spring (C/2013 A1)
adalah komet yang pertama kali
ditemukan di tahun 2013 ini. Ia
mendapatkan namanya karena
pertama kali dilihat per 3 Januari 2013
lalu dari Observatorium Siding Spring (Australia) yang masih sibuk berbenah
pasca kebakaran hutan merusak
sejumlah fasilitas di kompleks
observatorium ini.
Komet Siding-Spring
sekaligus salah satu komet terjauh
yang pernah ditemukan yakni sejarak lebih dari 1 milyar km (7,2 SA) dari
Matahari saat komet masih melata di
antara orbit Saturnus dan Jupiter.
Dengan orbit hiperbola, komet ini tak
punya periode dan hanya akan sekali
mendekati Matahari hingga mencapai perihelionnya (di antara orbit Bumi dan
Mars) untuk kemudian dihentakkan
keluar lingkungan tata surya.
Apa yang mengesankan dari komet
Siding-Spring ini adalah besarnya
diameternya, yakni sekitar 50 km alias
2 kali lipat ukuran komet Halley.
Kejutan berikutnya, pada 19 Oktober
2014 mendatang komet ini bakal melintas dalam jarak hanya 96.600 km
dari permukaan planet Mars. Namun
dengan ketidakpastian posisi yang
masih cukup besar (sebagai akibat
masih kurangnya data oleh pendeknya
waktu observasi sejak awal januari hingga sekarang), yakni mencapai 1
juta km maka komet Siding-Spring
mempunyai potensi bertubrukan
dengan planet Mars, meski
probabilitasnya terhitung kecil.
Apa yang akan terjadi jika komet
Siding-Spring menghantam Mars?
Dengan kecepatan 56 km/detik,
densitasnya setara air (1 gram/cc),
jatuh dari titik zenith dan menghantam
daratan sedimen (dengan densitas 2 gram/cc), maka tumbukan itu bakal
membentuk kawah raksasa
berdiameter 1.260 km alias lebih besar
dibanding Pulau Jawa.
Tumbukan
tersebut juga bakal melepaskan energi
luar biasa besar, yakni 25 milyar megaton TNT. Tingkat energi ini 250
kali lebih besar dari yang pernah
diterima Bumi saat asteroid jatuh 65
juta tahun silam dan memusnahkan
dinosaurus beserta 75 % makhluk
hidup lainnya.
Akankah demikian?
Semua
bergantung kepada profil orbit yang
sesungguhnya dari komet ini, sehingga
observasi demi observasi terus
dilanjutkan untuk menghasilkan
estimasi posisi yang lebih akurat (dengan tingkat ketidakpastian yang
lebih kecil). Maka, mari kita tunggu saja
perkembangan selanjutnya.
Komet Siding-Spring (C/2013 A1)
adalah komet yang pertama kali
ditemukan di tahun 2013 ini. Ia
mendapatkan namanya karena
pertama kali dilihat per 3 Januari 2013
lalu dari Observatorium Siding Spring (Australia) yang masih sibuk berbenah
pasca kebakaran hutan merusak
sejumlah fasilitas di kompleks
observatorium ini.
Komet Siding-Spring
sekaligus salah satu komet terjauh
yang pernah ditemukan yakni sejarak lebih dari 1 milyar km (7,2 SA) dari
Matahari saat komet masih melata di
antara orbit Saturnus dan Jupiter.
Dengan orbit hiperbola, komet ini tak
punya periode dan hanya akan sekali
mendekati Matahari hingga mencapai perihelionnya (di antara orbit Bumi dan
Mars) untuk kemudian dihentakkan
keluar lingkungan tata surya.
Apa yang mengesankan dari komet
Siding-Spring ini adalah besarnya
diameternya, yakni sekitar 50 km alias
2 kali lipat ukuran komet Halley.
Kejutan berikutnya, pada 19 Oktober
2014 mendatang komet ini bakal melintas dalam jarak hanya 96.600 km
dari permukaan planet Mars. Namun
dengan ketidakpastian posisi yang
masih cukup besar (sebagai akibat
masih kurangnya data oleh pendeknya
waktu observasi sejak awal januari hingga sekarang), yakni mencapai 1
juta km maka komet Siding-Spring
mempunyai potensi bertubrukan
dengan planet Mars, meski
probabilitasnya terhitung kecil.
Apa yang akan terjadi jika komet
Siding-Spring menghantam Mars?
Dengan kecepatan 56 km/detik,
densitasnya setara air (1 gram/cc),
jatuh dari titik zenith dan menghantam
daratan sedimen (dengan densitas 2 gram/cc), maka tumbukan itu bakal
membentuk kawah raksasa
berdiameter 1.260 km alias lebih besar
dibanding Pulau Jawa.
Tumbukan
tersebut juga bakal melepaskan energi
luar biasa besar, yakni 25 milyar megaton TNT. Tingkat energi ini 250
kali lebih besar dari yang pernah
diterima Bumi saat asteroid jatuh 65
juta tahun silam dan memusnahkan
dinosaurus beserta 75 % makhluk
hidup lainnya.
Akankah demikian?
Semua
bergantung kepada profil orbit yang
sesungguhnya dari komet ini, sehingga
observasi demi observasi terus
dilanjutkan untuk menghasilkan
estimasi posisi yang lebih akurat (dengan tingkat ketidakpastian yang
lebih kecil). Maka, mari kita tunggu saja
perkembangan selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar